© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kisah Perjuangan Bangsa dalam Balutan Sandiwara Humor

24 Aug 2019

Alkisah, hiduplah seorang pemuda bernama Aceng. Bersama dengan ketiga orang temannya, mereka selalu bersemangat melawan penjajah. Aceng punya kisah cinta yang unik. Ia hampir bertunangan dengan gadis menawan bernama Euis. Sayangnya, ibu Euis kurang menyukai kedekatan mereka berdua karena Aceng hanyalah rakyat biasa dan tidak mempunyai apa-apa. Namun, Euis telanjur mencintai hati Aceng yang tulus padanya. 

Meski rasa cintanya pada Euis tidak diragukan lagi, nasib bangsa Indonesia tetaplah nomor satu buat Aceng. Ia bahkan rela meninggalkan Euis, meskipun Euis sempat merasa kecewa dan sedih. Bukannya tidak cinta lagi, namun ia harus rela berkorban demi nasib seluruh rakyat Indonesia.

Aceng pun gugur. Ia meninggal saat bertugas meledakkan gudang mesiu milik penjajah. Ia resmi menjadi pahlawan, meski kisah cintanya juga tinggal kenangan. Namun apa yang dilakukannya telah membantu menyelamatkan rakyat Indonesia dari penjajahan dan membuat Euis berbangga pada akhirnya. 

Kisah tadi merupakan bagian dari pementasan teater dengan lakon, Sumpah Pejuang yang dengan epik dimainkan kelompok sandiwara Miss Tjijih di Galeri Indonesia Kaya akhir pekan lalu. Yuki Kato yang diundang terlibat dalam pementasan, sukses memberikan warna tersendiri di perannya sebagai Euis.

Mengenakan kebaya berwarna biru, bawahan batik coklat dan dengan rambut digulung cepol khas gadis desa, Yuki Kato tampil piawai di atas panggung. Gelak tawa penonton juga selalu terdengar selama 60 menit pertunjukkan berlangsung. Bahkan, di adegan yang seharusnya sedih pun, para pemain tetap membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. 

“Nggak ada naskah, itu tuh cuma dikasih sinopsis doang dan pertunjukkan itu semuanya kita improve,” ungkap Yuki.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Penonton yang hadir pun dihibur dengan gaya komedi khas Sunda yang memang menjadi ciri khas dari kelompok sandiwara Miss Tjitjih. 

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan lakon ini diharapkan bisa menyadarkan generasi muda tentang pengorbanan dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan demi kemerdekaan yang sudah kita raih saat ini. Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini menurutnya merupakan hasil perjuangan dari para pahlawan yang telah berjuang dalam melawan penjajah.

“Tepat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, kami bersama Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih ingin merayakannya dengan sebuah sajian yang menarik dan dapat menanamkan jiwa nasionalis yang tinggi kepada generasi muda,” jelasnya.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU