© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Festival Pamalayu, Pelurusan Sejarah Jawa dan Melayu

27 Aug 2019

Singasari pernah menjadi peradaban dan kedinastian besar di Nusantara sebelum Majapahit lahir. Kekuasaannya tercatat dalam berbagai literatur pernah mencapai Kamboja. Penaklukan demi penaklukan dilakukan demi memperluas wilayah kerajaan. Pun yang terjadi di wilayah pulau Sumatera.

Diceritakan pada 22 Agustus 1286 atau sekitar abad ke-13, Singasari melakukan ekspedisi ke wilayah kerajaan melayu di Dharmasraya. Nicholas Johannes Krom, seorang arkeolog dan sejarahwan berkebangsaan Belanda yang menuliskan narasi tentang upaya penaklukan Dharmasraya oleh Singasari. Teori ini akhirnya diikuti oleh peneliti sejarah lainnya. 

Sutan Riska, Bupati Dharmasraya sepertinya terganggu dengan istilah penaklukan yang kadung dipercaya orang banyak. Menurutnya di era Indonesia modern harus ada pelurusan sejarah mengenai kedatangan Singasari ke kerajaan melayu tersebut. Ia lebih setuju jika kedatangan Singasari lebih sebagai upaya persahabatan.

Kalau memang penaklukan, ia mempertanyakan, mungkinkah Singasar membawa hadiah Arca Amogapasha untuk Raja Malayu Dharmasraya. Padahal Arca Amogapasha adalah perlambang kasih sayang. “Kalau memang penakhlukan, mungkinkah Singasari membawa dua putri raja Dharmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga yang kemudian menjadi istri Raja di Pulau Jawa?” ujarnya. 

Sutan berharap ahli dan sejarawan bisa meluruskan hal-hal yang dirasa janggal tersebut. Itulah mengapa pihaknya begitu antusias dalam membuka Festival Pamalayu di Museum Nasional, Jakarta. Pembukaan yang dilakukan pada 22 Agustus kemarin bersamaan dengan waktu terjadinya ekspedisi Singasari ke wilayah Dharmasraya.

Ia berharap festival Pamalayu diharapkan menjadi pintu menjemput nilai-nilai kebaikan di masa lalu sekaligus menyamai benih baru yang disimpan peradaban nenek moyang untuk ditawarkan pada generasi mendatang. “Menurut pandangan kami, di masa lalu bangsa kita mempunyai peradaban tinggi yang selaras dengan alam. Manusia menjaga alam dengan baik dan alam melindungi manusia,” katanya. 

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Nasional, Hilmar Farid mengatakan gagasan pemerintah kabupaten menggelar Festival Pamalayu bekontribusi kepada Indonesia sebagai sebuah bangsa. Narasi penaklukan harus diluruskan secara obyektif. Ini sekaligus sebagai cara menyatukan nusantara modern.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU