© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Memori Rutinitas dalam Instalasi Surreal

11 Sep 2019

Sebuah instalasi seragam sekolah yang lusuh dan kusam terpajang di satu sudut ruang galeri RUBANAH Underground Hub. Hari ini adalah pekan terakhir gelaran pameran tunggal milik seniman muda, Meliantha Muliawan. Sejak akhir Agustus kemarin hingga 14 September mendatang alumnus Seni Rupa ITB itu menggelar pameran dengan tajuk, MON-FRI. 

Meliantha belum berubah sejak keikutsertaan terakhirnya di Art Jogja. Ia masih setia dengan karya instalasi yang mengangkat benda sehari-hari menjadi objek seni menarik. Lewat karyanya, ia mengungkap persoalan pekerjaan yang telah mendominasi seluruh kehidupan kita dan menjadi sumber kehidupan.

Pekerjaan pun menjadi obat terlepas dari kenyataan kalau bekerja ternyata adalah bagian dari penyakit. “Pameran Meli berisi benda-benda yang tidak berfungsi dengan baik. Mereka ada saat-saat ganjil, terkadang terasa terlalu lama atau terlalu cepat tapi tidak pernah lengkap”. 

Dikuratori Syafiatudina, pameran MON-FRI pun mengungkap berbagai masalah bagaimana masyarakat yang gila kerja mengalami waktu dan munculnya fiksi. Lihat saja pada obyek instalasi seragam sekolah yang ia beri nama, 7 am to 3 pm uniform. Seragam sekolah yang lusuh menunjukkan bahwa murid-murid terus melakukan rutinitas yang sama hampir setiap hari.

Mereka berangkat sekolah, lalu belajar dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Karya ini juga menunjukkan sistem pendidikan indonesia yang belum begitu maju dari tahun ke tahun. 

Meliantha begitu yakin dengan pendekatan seni seperti ini. Bagian surreal membuat karya dan penikmatnya menjadi tidak berjarak. Benda-benda keseharian yang seringkali dihiraukan menurutnya mampu menjadi penghantar pada sebuah permenungan. Sifatnya yang tanpa batas mampu menjadi medium kenangan pada masing-masing konteks memori penikmatnya.

“Kayak kamu ke dapur, kamu lihat kain lap. Terus kamu pasti cuek, nah PR aku gimana supaya kamu jadi fokus ke kain lap itu dan dari lihat kain itu kamu ingat ibumu. Itu contoh kecilnya,” katanya. 

Meliantha adalah seniman muda yang mulai muncul namanya beberapa tahun terakhir. Semenjak menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) pada tahun 2014 silam, ia memulai petualangannya dengan bekerja di wilayah manajemen seni. Pekerjaan itulah yang membuat ia mengenal segala detil tentang dunia seni yang digelutinya saat ini.

Dari situ, titik tolak karir kesenimanannya dimulai. Pameran ini bukanlah pameran tunggal pertamanya, pada awal Januari 2017, ia melakukan pameran tunggal yang didukung oleh REDBASE Foundation Jogjakarta.
 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU