© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Interpretasi Togar tentang Tanah dan Manusia

12 Sep 2019

Jika Anda berkunjung ke galeri RUCI Art Space di kawasan Kebayoran Baru, mungkin pemandangan di sana sedikit akan mengejutkan. Lokasi pamer seni itu tiba-tiba berubah tata ruang layaknya pusat kebugaran. Namanya pun berganti, Super Baday Fitness Center. Cobalah memasuki ruang galerinya, rasa terkejut Anda mungkin timbul lagi. 

Ruangan dipenuhi peralatan gym yang agak berbeda. Ya, alat gym itu bukan dipasang pemberat seperti biasanya namun genteng. RUCI Art Space memang sengaja mengubah sementara galeri mereka layaknya pusat kebugaran untuk memenuhi hasrat seni perupa Julian Abraham alias Togar. Ya, dialah seniman di balik genteng-genteng itu.

Lalu mengapa harus genteng dan alat gym? Inilah yang menarik dari buah pikirannya. Togar menamakan pameran tunggalnya, Ulah Tanah. Ia bilang dirinya terinsipirasi harmonisasi antara manusia dengan alam. Genteng yang berbahan dasar tanah adalah simbol yang mewakili alam.

“Bagaimana manusia mengolah tanah, tanah akhirnya membentuk manusianya. Jadi ada umpan timbal balik,” ungkap Togar. 

Timbal balik yang dimaksud Togar diterjemahkan dalam bentuk alat gym dari genteng. Super Baday Fitness Centre sebagai tanah yang membentuk manusia atau otot. Pengunjung bisa melihat 6 karya seni berupa foto dan karya seni instalasi.

Ada para jebor Jatiwangi Cup yang hadir sebagai talent dan berpose dengan berbagai gaya. Mereka tengkurap, menumpuk badan satu sama lain, berdempetan hingga menyamping badan. Ada juga karya yang mengajak Anda untuk mencoba seperti alat pemberat pusat kebugaran. 

Jebor adalah sebutan bagi para pekerja pabrik genteng di Jatiwangi, Purwakarta tempat ia tinggal bersama istrinya, Grace Samboh. Dari sanalah Togar terinspirasi untuk memboyong genteng sebagai obyek seninya.

Ketika sering berkunjung ke usaha rumahan genteng dirinya menemukan banyak fakta menarik. Misalnya, ada satu atau empat genteng dengan merek berbeda tapi digunakan dalam satu atap, modularitas karena cenderung mirip. “Bayangkan ketika mereka bersaing secara produksi tapi ketika diletakkan fungsinya sama,” kata Togar. 

Karya seni ini juga menjadi refleksi karakter hidup sosial. Menurut Togar, satu atau dua buah genteng tidak akan ada fungsi. Namun ketika genteng ada banyak dan disatukan jadi berfungsi layaknya sebuah kelompok sosial. “Ada proses kolektif karena tidak bisa bekerja sendiri,” lanjutnya.

Di eksibisi Ulah Tanah siapapun bebas memainkan alat fitnes dari genteng tersebut layaknya sedang berolahraga. Anda bisa berkunjung ke sana hingga 15 September mendatang.     

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU