© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Arswendo, Budaya Populer, dan Jejak Komik Indonesia

4 Oct 2019

Ketika film pahlawan super Indonesia, Gundala muncul di bioskop kemarin, penggemar komik Indonesia begitu menyambutnya dengan bersemangat. Ini bukan kali pertama memang Gundala ditayangkan dalam bentuk film, namun kehadirannya dengan sinematografi yang lebih modern turut menaikkan harapan bahwa Indonesia pun mampu menayangkan film berkualitas yang diadaptasi dari dunia komik layaknya Marvel Studio di Amerika Serikat.

Gundala dan Sri Asih menjadi yang paling popular saat ini karena keduanya yang pertama kali muncul dalam bentuk film. Dalam dunia komik, kedua figur itu juga sama populernya. Gundala ditulis oleh mendiang Hasmi pada 1969 dengan judul Gundala Putra Petir. Sementara Sri Asih dari tangan RA Kosasih lebih dulu muncul di era 1954-1966. 

Harus diakui memang membicarakan komik Indonesia tak ubahnya seperti membicarakan sejarah bangsa. Dari arsip yang terkumpul, komik atau yang dulu lebih dikenal dengan sebutan cerita bergambar (Cergam) sudah lahir pertama kali tahun 1925. Di masa itu, cergam sudah dibaca oleh masyarakat Indonesia meski secara resmi masih bernama Hindia Belanda.

Di galeri seni Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan runutan sejarah Panjang komik Indonesia tersaji dalam pameran bertajuk Komik itu Baik. Beragam judul komik yang pernah lahir dari komikus Indonesia sejak 1920-an sampai 1990-an ada di sana. Seperti komik terbitan Majalah Sin Po (1925) sampai karakter Put On karya Kho Wang Gie yang terbit tahun 1930. 

Setelah 'Put On', komik setrip Indonesia tumbuh dan menarik para seniman maupun pencinta sastra. Salah satunya adalah Abdoel Salam, pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI). Di dekade 1950an, salah satu karya komik setrip terpenting adalah 'Mentjari Poetri Hidjau (1939) oleh Nasroen AS, pelopor komik petualangan.

"Di tahun 1925, ada pembaca komik Indonesia, meskipun secara teknis masih Hindia Belanda ya. Konteksnya kan lokal, orang Indonesia keturunan Tionghoa dan data itu munculnya sebagai urban culture di Batavia. Itu data yang kami dapatkan di Perpustakaan Nasional Indonesia ya," terang kurator pameran, Hikmat Darmawan, saat diwawancarai, akhir pekan lalu.

Fase berikutnya pada 1967-1993 ketika komik Si Buta dari Gua Hantu ciptaan Ganes TH terbit. Genre cergam superheo mendominasi industri dari akhir 1960an hingga awal 1970an. Di satu sisi, novel grafis bermunculan. Di dekade 1994 sampai sekarang, bibit-bibit karya digital pun tumbuh. Bibit pemikiran kritis dan idependen muncul dari generasi baru seniman komik muda Yogyakarta seperti Eko Nugroho. 

Tak hanya sejarah mengenai arsip komik Tanah Air saja yang bisa dilihat, tapi juga ruang penghormatan terhadap sosok Arswendo Atmowiloto. Ya, seniman serba bisa itu memang digadang sebagai salah seorang pelopor studi budaya popular Indonesia.

Ia menelaah berbagai segi budaya pop Indonesia dari sudut non-akademik, tapi dari “dalam”: ia juga pelaku aktif, baik sebagai pencipta maupun sebagai pembangun wahana bagi berbagai produk budaya pop Indonesia modern.

Arswendo punya peran besar dalam dunia perkomikan Indonesia sejak 1970-an. Pada 10-15 Agustus 1979, Wendo menerbitkan seri tulisan bertajuk Komik Itu Baik 1-5 di harian Kompas. Tulisan itu berlanjut hingga 1981, mengenalkan, bahkan membuka mata banyak orang tentang betapa kaya khasanah komik Indonesia. 

Arswendo juga menelaah komik sorga-neraka, yang biasanya dijual di pinggir jalan dekat sekolah atau pesantren. Seri tulisan Arswendo itu mengilhami sebuah pameran komik dan seminar yang mungkin jadi pertama di Indonesia, di Yogyakarta pada 1981, diinisiasi oleh Seno Gumira Adjidarma.

Pada Juli 2005, Seno mempertahankan disertasinya tentang komik Panji Tengkorak karya Hans Djaladara. “Saya banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Wendo soal komik Indonesia. Dia bilang dalam komik bukan gambar yang penting tapi narasi ceritanya Saya pun akhirnya bikin disertasi tentang komik dan jadi “doktor pertama bidang komik di Indonesia,” ungkap Seno.

Arswendo juga aktif sebagai pencipta komik. Setidaknya, selama ia menjadi pimpinan redaksi sejumlah majalah, ia banyak mengundang komikus bertaraf maestro maupun yang biasa saja, untuk membuat komik-komik pendek di majalah yang diasuhnya. Tertarik untuk melihat lebih banyak? Pameran ini dibuka untuk publik hingga 20 Oktober mendatang.     

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU