© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Representasi Gender dan Lingkungan Hidup dalam Seni Rupa

23 Oct 2019

Eksistensi perempuan dalam hidup kembali disuarakan oleh lima perupa dalam sebuah proyek Seni Perempuan Perupa. Ini merupakan gelaran yang ke lima sejak 2014 lalu diinisiasi Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta. Tahun ini, pameran yang diikuti Citra Sasmita, Dea Widya, Dewi Candraningrum, Prilla Tania dan Tita Salina mengambil tema, Siklus Buana.

Siklus Buana merupakan representasi dari isu ekofeminisme yang diangkat oleh para perupa. Saras Dewi, Kurator pameran mengatakan tema ini dipilih karena adanya kesamaan masalah yang dialami oleh perempuan dan alam, akibat dari sistem sosial-ekonomi masyarakat yang masih menganut patriarki. 

Menurutnya dalam Proyek Seni Perempuan Perupa instalasi seni yang ditampilkan di sini bukan hanya sekadar ekspresi artistik. Melainkan sebagai bentuk protes. “Bagaimana menyampaikan suatu pesan bahwa ada problem dengan lingkungan hidup, dari soal pencemaran udara, kebencanaan alam di Jambi misalnya kebakaran hutan Karhutla,” ujar Saras.

Kemudian juga soal bagaiamana keresahan perubahan yang terjadi dari masih banyaknya alam, yang alamiah menjadi tidak alamiah. Lalu soal bagaimana rasa kegelisahan seorang perempuan yang melihat kampung halamannya dihancurkan, pegunungan dihancurkan karena pertambangan karena pratik-pratik tidak berkelanjutan.

“Bagaimana sih cerita antara tubuh perempuan dengan tubuh alam," imbuh wanita yang akrab disapa Yayas itu. 

Sementara, Siklus Buana adalah sebuah proses alamiah dalam kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kematian. Pengunjung diajak untuk menuangkan gagasannya dengan ikut andil dalam karya Prilla Tania, meresapi kidung dari syair kuno dalam instalasi seni Citra Sasmita, melihat perlawanan masyarakat Pegunungan Kendeng agar lingkungannya tidak dijadikan pabrik semen dari lukisan Dewi Candraningrum

Pengunjung juga diajak untuk mengkritisi ruang domestik yang rata-rata bersifat maskulin di karya Dea Widya, serta merasakan bagaimana masyarakat Jambi dan Kalimantan kesulitan untuk mendapatkan udara bersih saat kebakaran hutan terjadi melalui karya Tita Salina. 

Proyek Seni Perempuan Perupa dibuka bagi masyarakat umum secara gratis. Diharapkan, melalui cara ini para pengunjung dapat memahami tentang adanya hubungan antara gender dan masalah lingkungan. Serta karya-karya seni yang ditampilkan, bisa memicu orang-orang untuk berbuat sesuatu, khususnya kepada nasib dan keberlangsungan alam.

Anda dapat menyaksikan pameran ini di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta hingga 29 Oktober mendatang!     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU