© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Sentilan Sosial Para Seniman di Ajang UOB Painting of the Year 2019

23 Oct 2019

Menyuarakan kepedulian terhadap persoalan bangsa bisa dilakukan dengan cara apapun termasuk melalui karya seni. Anagard, seorang perupa graffiti asal Padang memilih cara tersebut. Ia membuat karya seni dengan stensil bermedia aluminium. Sekilas tampilan rupa-rupa warna menghiasi hampir di setiap sisi media lukis. Namun memang itulah yang ingin ia sampaikan.

Perupa yang kini bermukim di Yogyakarta itu menamai karyanya Welcome Perdamaian, Goodbye Kedengkian. Dari judulnya saja kita bisa memahami dengan cepat, sang perupa ingin menyisipkan pesan moral tentang cita-cita menjaga persatuan dalam keberagaman. 

Anagard terinspirasi dari sebuah rumah ibadah yang dikenal sebagai Bukit Rhema di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Rumah ibadah tersebut sebagai simbol perdamaian merepresentasikan multikulturalisme dan toleransi di Indonesia.

“(Elemen) ada tradisi, warna yang menunjukkan simbol keberagaman dan perbedaan. Ciri khasnya gereja ayam di Magelang konsepnya sangat menarik menawarkan konsep tentang tujuh ruang tentang semua agama,” ungkapnya.

Karya seni buatan tangannya itu terpilih sebagai karya terbaik dalam ajang UOB Painting of the Year 2019. “Saya memang beranjak dari isu lingkungan, isu-isu nasional. Gagasan itu yang memunculkan saya untuk mengungkapkan karya di UOB ini,” kata Anagard. 

Selain karya miliknya, ajang tahun ini juga mengenalkan karya perupa lain. Recycle is The New Enlightment ciptaan seniman Ayu Arista Murti. Karyanya mendapat juara bronze UOB Painting of the Year 2019.

 

Ayu menyentil isu penggunaan plastik yang terjadi di masyarakat. Plastik menjadi permasalahan di seluruh dunia dan satu-satunya cara adalah mendaur ulang atau recycle dari plastik itu sendiri. “Saya fokus pada permasalahan plastik dan sudah jadi problem di berbagai belahan dunia. Hal-hal yang baik bisa dimulai dari habit yang kecil-kecil dulu, termasuk plastik ini,” kata Ayu.

Selama tiga tahun belakangan, seniman yang bergabung dalam kolektif seni Tactic Plastic di Yogyakarta aktif menyentil isu penggunaan plastik dan mengkampanyekan daur ulang. “Kami concern me-recycle dan punya donasi online ini,” katanya. Menurut Ayu, gerakan daur ulang plastik adalah simbol pencerahan manusia di zaman plastik.

“Gerakan ini harus menjadi kebaikan yang konkret, bagaikan enlightenment atau pencerahan bagi lingkungan atau sesamanya,” tukasnya. 

Perupa lain yang ikut serta dalam ajang ini dengan gaya satir adalah Dwi Januartanto yang meraih pemenang gold di UOB Painting of the Year 2019 lewat karya berjudul Eat Pray Love. Gagasan karyanya berasal dari puisi dan esai panjang namun juga menyentil isu pangan yang terjadi di Tanah Air.

Dwi menggunakan media karung jagung sebagai dasar pembuatan karyanya. Ia membuat permainan kata dengan lihai bertuliskan, Makan Makna. Dua hal tersebut digabungkan antara kebutuhan psikologis dan psikis. Menurutnya membicarakan mengenai karung jagung, padi, dan pangan lainnya maka berarti 'makan'.

“Makan Makna di sini bukan makan secara arti langsung tapi lebih ke makna di baliknya,” lanjutnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, ada sekitar seribu karya yang masuk. Ada pun proses penjurian dilakukan secara berjenjang mulai dari menyeleksi foto-foto karya peserta yang telah dikirim. “Penjurian dari menyeleksi 50 lebih. Dari 50 itu kita meminta seniman mengirimkan karya aslinya ke Jakarta untuk dilihat langsung,” kata Agung Hujatnikajennong, salah satu dewan juri. 

Selama proses penjurian, Agung menyebut para juri berhadapan langsung dengan lukisan-lukisan dan ada begitu banyak diskusi yang terjadi. Ia menambahkan kompetisi tidak mewakili perkembangan yang luas secara objektif seni lukis, karya yang masuk melihat praktik seni lukis kecenderungan di Indonesia.

Agung mengungkapkan hal yang paling kuat dari seniman Indonesia adalah mereka peduli akan representasi, mewakili pesan narasi untuk disampaikan. “Ada tema beragam seperti lingkungan, gender,” lanjutnya.

Saat ini 50 karya seni termasuk dari para finalis dan kedelapan pemenang dari UOB Painting of the Year 2019 dipamerkan di Ruang Pamer Temporer di Museum Nasional Indonesia hingga 31 Oktober 2019 dan terbuka untuk umum.
 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU