© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

13 Nov 2019

Eddy Susanto merupakan seniman kelahiran 1975 sementara Edlwin Pradipta jauh lebih muda. Ia lahir pada 1990 silam. Terpautnya usia kedua seniman ini ternyata tak menghalangi mereka untuk melakukan pameran kolaborasi. Keduanya tertarik dengan seni kontemporer yang memberikan kebebasan bagi seniman untuk memilih media dan materi karya.

Dua perupa itu sepakat mengambil Eclipse atau gerhana sebagai tema. Eclipse adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain, seringkali fenomena ini dikaitkan dengan mitologi dan kebudayaan sejak zaman dahulu hingga kini. 

Eddy Susanto dikenal sebagai perupa yang kerap menarasikan sejarah dan mitologi melalui karya dua dimensi. Ada yang di atas kanvas, namun juga instalasi, sementara Eldwin Pradipta dikenal sebagai seniman media baru yang kerap merepresentasikan persoalan kekinian.

Mereka berdua sama-sama menawarkan dimensi dari mitos yang belum diketahui untuk melengkapi sisi rasional manusia yang semestinya diisi oleh imajinasi, spiritualitas dan kreativitas.“Tanpa adanya mitos, manusia dapat berubah menjadi sosok yang kering dan tanpa imajinasi,” kata Asmudjo J. Irianto yang menjadi kurator Eclipse. “Melalui Eclipse, mereka mengajak apresiator mempertanyakan kembali nilai-nilai mitos dalam kehidupan masa kini,” tambahnya. 

Eldwin Pradipta yang masuk dalam golongan miliniel adalah lulusan jurusan Intermedia, Fakultas Seni & Desain, Institut Teknologi Bandung. Karyanya kerap mengeksplorasi proyeksi video dan media digital lainnya. Bagi Eldwin, new media memiliki posisi yang menarik untuk menarik titik temu di antara seni tinggi (high art) dan seni rendah (low art).

Ia dikenal suka mengeksplorasi berbagai macam isu mengenai aturan dan sistem yang terjadi di dalam dunia seni rupa kontemporer. Dengan menggunakan bahasa sindiran dalam karyanya, Eldwin mencoba untuk mengkritik berbagai aspek dunia seni yang ia temukan sebagai alasan pembatasan bagi seniman, khalayak, karya seni, dan semua pihak yang terlibat di dunia seni rupa kontemporer.

Dalam pameran Eclipse, karya-kaya Eldwin berkonsentrasi pada subjekifikasi dari seni populis atau seni rendah di Indonesia, yang masih berada dalam egalisasi dan dikotomi dari objek dan praksis seni tinggi. Kehidupan manusia juga merupakan salah satu latar belakang dan tema yang berulang kali menjadi bahasan utama dalam beberapa karyanya. Melalui konsep tersebut, Eldwin hendak menyampaikan perspektif keterbatasan dan keterputusasaan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia sebagai negara dunia ketiga.

Sementara Eddy yang masuk dalam generasi X memiliki kekuatan yang terletak di aspek geo-politik yang berlaku di masa ini, serta relasinya dengan dari sejarah dari masa lalu. Dalam pameran Eclipse karya-kaya Eddy dibuat dengan melakukan penelitian yang menyeluruh dalam poin- poin tertentu dalam sejarah, dimana Ia mengeksplorasi gagasan besar mengenai narasi sejarah dan pengembangan identitas. 

Eddy dan Eldwin, keduanya sudah mencicipi panggung seni dunia. Pada 2016, Eldwin bergabung dengan beberapa pameran grup seperti A.S.A.P. New Contemporary Artist from Indonesia (Galeri G13 Kuala Lumpur, Malaysia) dan Stills in Action, Video Stage di Art Stage (Marina Bay Sands, Singapura). Dia telah mengikuti beberapa pameran seperti South East Asia Forum (Art Stage Singapore) dan Fantasy Island in Objectificts (Center for Film and Photography, Singapura, 2017). Karyanya pernah terlibat dalam Manifesto 6.0: Multipolar (Galeri Nasional, Jakarta, 2018) dan Beyond Painting: Extend the Boundaries (Art Expo Malaysia, 2019).

Sementara Eddy Susanto yang masuk kategori generasi X merupakan salah satu seniman representasi ArtSociates yang berdomisili di Yogyakarta. Karyanya menggambarkan fragmen sejarah lokal yang disejajarkan dengan sejarah dunia, serta menyatukan identitas budaya Timur ke dalam elemen-elemen sejarah Barat.

Pameran tunggalnya yang terbaru adalah adalah The Irony of Ruralism (Art Jakarta, Jakarta, 2018) dan 10 + 3 Project (Baik Gallery, Seoul, 2018). Dia juga telah berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama, antara lain JAVA Art Energy (Institut des Cultures d’Islam, Paris, 2018-2019) dan Singapore Biennale, Atlas of Mirror (Singapore Art Museum 2016-2017). 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU