© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

18 Nov 2019

Gelaran Ulos Festival 2019 baru saja digelar. Selama lebih kurang lima hari melakukan pameran, Ulos Fest mampu menarik minat pengunjung dengan jumlah yang siginifikan, terutama dari kota Jakarta. Ragam jenis motif ulos menarik mata setiap orang yang hadir di Museum Nasional sepekan lalu.

Dari puluhan jenis ulos yang hadir, karya tangan Robert Sianipar menjadi salah satu yang menarik minat. Ulos berwarna merah hitam tersebut memiliki panjang 500 meter. Atas keunikannya, ulos tersebut berhasil memecahkan rekor MURI sebagai ulos terpanjang. Ulos tersebut dipajang di atas langit-langit ruang pameran ulos. 

Bukan hanya karena Robert, puluhan ulos dari berbagai jenis seperti Bintang Marantur, Tumtuman, Suri-suri Ganjang, Padang Ursa, Ragi Uluan, dan Ragi Hidup dipajang dalam pameran tersebut.

Ulos Batak merupakan kain khas yang dibuat oleh masyarakat Sumatera Utara dengan cara ditenun. Setiap ulos Batak yang dibuat memiliki arti dan kegunaan yang berbeda-beda. Masyarakat Sumatera Utara sendiri menggunakan ulos sebagai kain yang berfungsi sakral ataupun simbolis. 

Sebagai fungsi sakral, ulos Batak digunakan untuk mangulosi (menguloskan) sanak keluarga dan tamu kehormatan. Kegiatan tersebut melambangkan kasih sayang, harapan kebaikan, dan pemberian restu. Adapun ulos Batak sebagai fungsi simbolis banyak digunakan dalam upacara-upacara adat.

Ulos Fest 2019 mengambil tema Motif, Ragam, dan Makna Ulos. Dari pameran ini diharapkan masyarakat dapat memahami ragam pemanfaatan ulos. Selain itu, digagas pula upaya untuk melakukan inovasi terhadap ulos agar kain itu tidak termakan oleh zaman, dan bisa dikenakan sehari-hari. 

“Kain ulos Batak tetaplah ulos Batak. Yang kita inovasikan adalah materialnya, tekniknya, dan fashion,” ujar Nina Maftukha, dosen Fakultas Desain dan Seni Universitas Mercu Buana.

Misalnya ingin membuat baju, maka dapat menggunakan material kain katun atau bahan lainnya. ‌Inovasi, menurut Nina, juga bisa dilakukan dari segi teknik pembuatan. Jika ulos aslinya dibuat dengan ditenun, maka kita bisa saja membuat motif ulos Batak pada baju dengan cara cetak mesin atau disablon. 

Dari segi fashion, motif ulos Batak dapat diaplikasikan pada baju. Dengan begitu, motif-motifnya yang menarik pun bisa makin dikenal. “Intinya, inovasi harus terus dilakukan karena tradisi tanpa inovasi akan mati,” tambah Nina.

Memang tidak semua orang setuju jika inovasi yang dilakukan pada ulos akan menghilangkan aspek kesakralannya. Sebagian orang berpendapat bahwa ulos Batak harus dibuat dengan cara tradisional dan digunakan sebagaimana mestinya sesuai adat.

Karenanya, inovasi ulos Batak diharapkan tidak meninggalkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Jangan sampai nilai luhur budaya dan filosofi yang ada pada ulos Batak menjadi hilang karena sebuah inovasi.   

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU