© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Mengenang Dwi Koen di Semesta Panji Koming

22 Nov 2019

Siapa yang tak kenal dengan Panji Koming. Pembaca setia Harian Kompas pastilah kenal betul dengan karakter komik satu ini. Oleh penciptanya, mendiang Dwi Koendoro, karakter ini menghiasi halaman koran terbesar di Indonesia itu selama lebih dari empat puluh tahun. Edisi terakhirnya terbit pada 25 Agustus 2019.

Nama Panji Koming diambil dari nama tokoh utamanya itu sendiri. Koming pada nama itu merupakan singkatan dari Kompas Minggu. Dalam latar ceritanya, Panji Koming hidup di era zaman kerajaan Majapahit. Namun, masalah yang diangkat adalah masalah kekinian di era Orde Baru dan setelahnya. 

Panji Koming diceritakan sebagai seorang pemuda kelas menengah ke bawah yang memiliki karakter lugu dan agak peragu. Ia memiliki kekasih cantik yang bernama Ni Woro Ciblon yang punya sifat pendiam dan sabar.

Dalam kehidupan sehari-hari, Panji Koming memiliki kawan karib yang bernama Pailul yang agak konyol namun lebih terbuka dan pemberani. Kekasih Pailul adalah Ni Dyah Gembili, perempuan gemuk yang selalu bicara terus terang. 

Komik strip Panji Koming pertama kali terbit pada 14 Oktober 1979. Sejak pertama kali terbit, komik ini terkenal dengan kritiknya yang tajam terhadap pemerintah. Mulai masalah lingkungan, politik, hingga budaya.

Banyak orang mengenal Panji Koming karena konten humornya. Semua tergambarkan melalui karakter Panji Koming yang naif dan Pailul yang jenaka. Di Bentara Budaya Jakarta, kenangan terhadap kelucuan komik ini bisa dinikmati dalam pameran kartun strip bertajuk, Komedi Priyayi. 

Berlangsung hingga 24 November mendatang, pameran Komedi Priyayi Panji Koming memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin melihat komik sepanjang tahun. Putu Fajar Arcana, kurator pameran, mengatakan dia merasa kesulitan ketika memilih 60 dari 1.920 terbitan Panji Koming.

“Tidak mungkin untuk mengkuratori semuanya dalam waktu singkat, atau tiga bulan setelah kepergian Dwi Koen,” kata Fajar saat pembukaan pameran. “Akhirnya, kami memilih yang terkait dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kami, terutama yang terkait dengan politik, ekonomi, lingkungan, hukum dan budaya.”

Memasuki ruang pameran terasa seperti memasuki alam semesta Panji Koming. Strip komik telah diperbesar, sementara patung karakter dan animasi memberikan catatan yang mempesona. Setiap komik dilengkapi dengan rincian tanggal publikasi dan masalah yang sedang dibahas. Selain Panji Koming, Dwi juga menciptakan karakter komik lainnya, termasuk Sawung Kampret dan Pailul.
 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU