© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Menyoal Pengalaman Integrasi Seniman di Negeri Orang

14 Jan 2020

Oleh Vicharius DJ

 

Empat seniman imigran Indonesia dan satu seniman Jerman menampilkan bersama karya mereka dalam pameran bertajuk, INTEGRASI di Bentara Budaya Jakarta. Pameran yang dibuka sejak Kamis pekan lalu itu masih berlangsung dan terbuka untuk publik.

Kurator pameran, Asmujo memandang tema INTEGRASI dapat dikaitkan dengan posisi seni rupa kontemporer dalam masyarakat di Indonesia. Menurutnya, praktek seni rupa kontemporer di Indonesia masih belum terintegrasi dengan masyarakat kebanyakan.

“Pameran seni rupa kontemporer masih belum terjangkau oleh masyarakat,” kata Asmujo. Maka dari itu karya-karya seni rupa kontemporer kurang memberikan kontribusi yang dapat memicu dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bisa memandang persoalan secara canggih. Selain itu, minimnya apresiasi terhadap karya para perupa kontemporer menyebabkan berkurangnya sikap toleransi di Indonesia.
 

Empat seniman yang ikut berkontribusi dalam pameran ini di antaranya, Andri Andriyani (Belanda), Daniel Kho (Jerman), Yudi Noor (Jerman), dan Ito Joyoatmojo (Swiss). Sementara Lili Voight merupakan satu-satu seniman Jerman yang ikut ambil bagian. Berbeda dengan seniman imigran Indonesia, Lili Voight menampilkan karya-karya foto berupa poster untuk menyoal identitas dan ekses dari arus manusia yang saat ini mudah berpindah.

Sementara itu Daniel Kho, seniman yang saat ini tinggal di Bali dan sering menetap di Jerman dan Spanyol menampilkan karya berupa figur totem dalam balutan warna-warni pop. Daniel Kho adalah pencinta wayang. Ia bahkan pernah memodifikasinya sebagai wayang modern. Sejak 1977 seniman asal Jawa Tengah ini menetap di Jerman.

Di sisi lain, Ito Joyoatmojo memilih menampilkan gambar-gambar makanan dalam karya-karyanya. Seniman asal Solo, Jawa Tengah, ini agaknya lebih memaknai makanan ini dapat digunakan sebagai alat untuk integrasi kebudayaan. 

Seniman asal Bandung, Jawa Barat, Yudi Noor kali ini berupaya membangun narasi yang berkaitan dengan identitas dan problem integrasinya di Jerman. Sedangkan Andri Andriyani akan menampilkan karya instalasi berupa foto sebagai ekspresi artistik menyoal problem identitasnya sebagai imigran Jawa.

Ketua Pengelola Bentara Budaya Jakarta Ika W. Burhan mengatakan, pameran INTEGRASI bertujuan untuk merespon keadaan nomaden para seniman Indonesia yang sering mengembara dalam jangka waktu lama di luar negeri.

Proses adaptasi dan pengalaman integrasi dengan budaya baru di mana mereka menjadi imigran menjadi penting bagaimana mereka dapat bertahan untuk terus berkarya.

“Penyesuaian ini terkadang tidak hanya melulu fisik, tapi juga mindset, pengambilan keputusan, gaya hidup, bahkan beberapa mempengaruhi pola berpikir mereka tentang filosofi, kemanusiaan, dan keyakinan yang mereka anut,” katanya. 

Dalam kebudayaan, integrasi dimaknai sebagai proses penyatuan berbagai macam identitas kebudayaan tanpa harus menghilangkan ciri dari budaya tersebut. Kata Integrasi ini dianggap tepat untuk menggambarkan seniman-seniman yang karyanya mewarnai pameran seni rupa kali ini.

Tak hanya suka cita akan keberagaman budaya yang dipamerkan. Pameran seni rupa Integrasi juga memberi “ruang” bagi seniman untuk berproses dan menampilkan karya dalam jangka waktu tertentu di suatu tempat.

Ruang itu bernama residensi Internasional yang saat ini ukup populer di sejumlah negara. Dijalankan sebagai upaya membangkitkan pengertian dan toleransi antar budaya yang berbeda. Tertarik dengan karya mereka? Pameran ini masih terbuka untuk umum hingga 15 Januari mendatang.    

Please reload

Ratapan Melanesia tentang Lingkungan yang Rusak

Excursio, Sebuah Perjalanan Artistik Para Seniman

Kreasi Visual yang Merayakan Keberagaman

Menyoal Pengalaman Integrasi Seniman di Negeri Orang

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU